Iklan

terkini

Arus Peti Kemas PMT Belawan dan Kuala Tanjung Tembus 470.419 TEUs Hingga Agustus 2026

Selasa, September 29, 2026, 18:01 WIB Last Updated 2026-09-29T11:01:54Z


Belawan,Medankabar.com -  Arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencapai 470.419 twenty-foot equivalent units (TEUs) hingga Agustus 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Selasa (29/9/2026).


PT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat, pertumbuhan tersebut terjadi di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan perdagangan internasional. Aktivitas distribusi domestik yang masih kuat menjadi salah satu penopang utama, disertai peningkatan ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari sejumlah kawasan industri di Sumatera.


Pertumbuhan paling tinggi tercatat pada layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Hingga Agustus 2026, volume peti kemas internasional mencapai 28.951 TEUs, atau meningkat 276 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tersebut mencapai 50.542 TEUs, tumbuh 16 persen secara tahunan.


Peningkatan tersebut sejalan dengan aktivitas ekspor-impor serta distribusi bahan baku industri, barang konsumsi, dan kebutuhan manufaktur yang masih menopang kegiatan sektor industri nasional.


Selain peti kemas, layanan barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga mencatat pertumbuhan. Volume barang yang ditangani hingga Agustus 2026 mencapai 690.578 ton, naik 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri dari kawasan hinterland Sumatera melalui pelabuhan tersebut.


Direktur Utama PT Prima Multi Terminal, Rudi Susanto, mengatakan pertumbuhan arus barang hingga Agustus 2026 memperlihatkan aktivitas ekonomi di Sumatera masih berlangsung positif, meskipun perdagangan global menghadapi sejumlah tantangan.


“Distribusi domestik masih menjadi penopang utama arus barang. Sementara itu, aktivitas ekspor dari sektor industri pengolahan dan komoditas mulai memberikan kontribusi yang lebih besar,” kata Rudi.

Menurut Rudi, industri kepelabuhanan masih menghadapi tantangan akibat perubahan jaringan pelayaran internasional, pergeseran rantai pasok


global, hingga dinamika geopolitik.

Berbagai kondisi tersebut dapat berdampak terhadap biaya logistik dan waktu pengiriman barang.

Karena itu, efisiensi operasional menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya saing pelabuhan sekaligus memastikan kelancaran arus barang.


Salah satu indikator yang menjadi perhatian PMT adalah effective time terhadap berthing time (ET/BT). Di Terminal Belawan, rasio ET/BT tercatat mencapai 85,42 persen.

Sementara itu, rasio ET/BT di Terminal Kuala Tanjung tercatat 71,91 persen untuk layanan internasional dan 66,70 persen untuk layanan domestik.


Untuk menjaga kinerja tersebut, PMT melakukan optimalisasi operasional melalui peningkatan utilisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, serta penguatan koordinasi dengan pengguna jasa dan antarterminal.


Aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian perusahaan. PMT terus memperkuat penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui inspeksi berkala, standardisasi peralatan operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja.


Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan target nihil kecelakaan kerja sekaligus memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan aman dan sesuai standar.


Rudi mengatakan, keberadaan pelabuhan tidak terlepas dari kebutuhan distribusi barang dan perkembangan kawasan industri di Sumatera. Menurutnya, peningkatan keandalan layanan pelabuhan menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi rantai pasok.


“Pelabuhan bukan hanya menjadi tempat keluar-masuk barang, tetapi juga bagian dari rantai pasok yang menentukan efisiensi industri. Keandalan dan efisiensi layanan perlu terus ditingkatkan agar pelaku usaha dapat mengendalikan biaya distribusi dan memperkuat daya saing produk Indonesia,” ujarnya.


Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Posisi geografis tersebut menjadikan kedua pelabuhan memiliki peran strategis sebagai simpul logistik di wilayah barat Indonesia.


Peluang pengembangan layanan kepelabuhanan juga berkaitan dengan pertumbuhan kawasan industri dan keberlanjutan program hilirisasi di Sumatera. Perkembangan kedua sektor tersebut turut mendorong kebutuhan terhadap layanan logistik dan kepelabuhanan yang semakin andal dan efisien.


Dengan pertumbuhan arus peti kemas, peningkatan layanan barang nonpeti kemas, serta penguatan efisiensi dan aspek keselamatan operasional, PMT terus mendorong optimalisasi kinerja Terminal Belawan dan Kuala Tanjung sebagai bagian dari penguatan rantai pasok dan konektivitas logistik di Sumatera, Tutupnya.(Wan)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Arus Peti Kemas PMT Belawan dan Kuala Tanjung Tembus 470.419 TEUs Hingga Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terkini

Iklan